Setiap orang berhak untuk mendapatkan kesehatan. Itu merupakan suatu hak asasi yang paling mendasar. Hanya saja kecenderungan manusia untuk memperhatikan fisiknya mempengaruhi dia untuk berpikir tentang kesehatan jiwanya. Padahal kesehatan fisik dan jiwa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan.
Ilmu kedokteran sebenarnya telah lama mengaplikasikan hal ini ke dalam suatu bidang ilmu yang disebut Psikosomatik. Hanya saja perkembangannya kemudian tidak berjalan sebagaimana seharusnya terutama di Indonesia.
Untuk hal itu anda seharusnya jangan takut bila berkunjung ke dokter ahli kesehatan jiwa atau psikiater. Pengalaman saya di praktek mempunyai pasien dari berbagai kalangan bukan hanya pasien "Gila" yang sebenarnya salah kaprah penyebutannya.
Kesehatan jiwa adalah hal yang sangat penting dalam kualitas hidup manusia. Sehingga seharusnyalah anda ikut menjaganya dengan baik
Jumat, 11 Juli 2008
Kamis, 10 Juli 2008
Acara Seminar Awam
Seminar Awam untuk Ibu dan Bapak
Tema "Mengenali Perkembangan Anak dan Permasalahannya"
Hari/Tanggal : Sabtu/ 26 Juli 2008
Jam : 08.00-10.00 wib
Tempat : KB/TK EFATA, Vila Melati Mas
Pembicara : dr.Andri,SpKJ ( Dokter di Klinik Kesehatan Jiwa dan Psikosomatik RS Global Medika )
Tema "Mengenali Perkembangan Anak dan Permasalahannya"
Hari/Tanggal : Sabtu/ 26 Juli 2008
Jam : 08.00-10.00 wib
Tempat : KB/TK EFATA, Vila Melati Mas
Pembicara : dr.Andri,SpKJ ( Dokter di Klinik Kesehatan Jiwa dan Psikosomatik RS Global Medika )
Jumat, 27 Juni 2008
Andri atau Andri Suryadi
Jika anda iseng memasukkan nama Andri di situs pencari seperti GOOGLE atau YAHOO maka anda dapat menemukan karya-karya tulis saya. Bila anda teliti lebih lanjut lagi maka ada beberapa karya tulis yang memakain nama Andri Suryadi sebagai penulisnya. Lalu samakah Andri dan Andri Suryadi?
Semuanya ini berawal ketika saya mulai menerbitkan pertama kali tulisan saya di majalah. Nama saya terlahir dengan ANDRI tanpa ada embel2 lain, namun karena membuat email itu harus memakai nama Keluarga (Surename) maka saat itu yang terpikir memasukkan nama ayah yang bernama Edi Suryadi ke dalam nama family itu. Hasilnya adalah ketika mengirimkan karangan atau tulisan lewat email, maka si penerima email akan melihat nama saya sebagai ANDRI SURYADI.
Sejak saat itulah nama Andri Suryadi menjadi nama alias saya bila menulis di koran terutama sekali adalah SUARA PEMBARUAN. Tidak dapat dipungkiri nama itu juga yang saya gunakan ketika berkorespondensi dengan teman-teman seminat di American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine.
Jadi tidak usah bingung dengan nama itu, seperti kata Shakespeare "Apalah artinya sebuah nama" Maka ketika anda membaca artikel tentang Kesehatan Jiwa dan Psikosomatik yang ditulis oleh Andri maka itu lah saya....
Andri atau Andri Suryadi ???? Sama saja
Semuanya ini berawal ketika saya mulai menerbitkan pertama kali tulisan saya di majalah. Nama saya terlahir dengan ANDRI tanpa ada embel2 lain, namun karena membuat email itu harus memakai nama Keluarga (Surename) maka saat itu yang terpikir memasukkan nama ayah yang bernama Edi Suryadi ke dalam nama family itu. Hasilnya adalah ketika mengirimkan karangan atau tulisan lewat email, maka si penerima email akan melihat nama saya sebagai ANDRI SURYADI.
Sejak saat itulah nama Andri Suryadi menjadi nama alias saya bila menulis di koran terutama sekali adalah SUARA PEMBARUAN. Tidak dapat dipungkiri nama itu juga yang saya gunakan ketika berkorespondensi dengan teman-teman seminat di American Psychosomatic Society dan Academy of Psychosomatic Medicine.
Jadi tidak usah bingung dengan nama itu, seperti kata Shakespeare "Apalah artinya sebuah nama" Maka ketika anda membaca artikel tentang Kesehatan Jiwa dan Psikosomatik yang ditulis oleh Andri maka itu lah saya....
Andri atau Andri Suryadi ???? Sama saja
Rabu, 25 Juni 2008
Sekilas Tentang Psikosomatik
Mengapa Kita Memerlukan Kedokteran Psikosomatik?
To improve the psychiatric care of patients with complex medical, surgical, obstetrical and neurological conditions
(American Board of Medical Specialties (ABMS) March 2003)
Untuk meningkatkan perawatan psikiatri atau kesehatan jiwa pada pasien-pasien dengan gangguan medis, bedah, kandungan dan saraf yang kompleks
(Dewan Kedokteran Spesialis Amerika, Maret 2003)
Pasien Apa Yang Bisa Berobat Ke Klinik Psikosomatik ???
- Pasien dengan penyakit medis, penyakit saraf atau penyakit bedah yang kondisinya akut atau kronis yang memiliki gangguan psikiatrik dan gangguan itu secara bermakna mempengaruhi perawatan dan kualitas hidup pasien. Contoh dari keadaan ini misalnya pasien diabetes (penyakit gula) yang mengalami depresi. Depresi pada penyakit diabetes bisa disebabkan karena seringkali penyakit ini menurunkan kemampuan pasien sebagai individu. Selain itu juga dalam bidang psikosomatik, terbukti adanya kaitan antara peran sistem dalam tubuh penderita diabetes yang memicu terjadinya depresi. Pasien luka bakar yang hebat juga bisa membuat si penderita merasa tidak mampu lagi menghadapi hidup. Seringkali pasien seperti ini jatuh ke dalam kecemasan dan depresi karena ketakutan akan hidupnya di masa depan. Pasien stroke juga sering kali (25%) mengalami depresi setelah serangan stroke-nya. Hal ini dapat diakibatkan karena kerusakan otak juga karena adanya cacat atau ketidakmampuan yang menetap akibat stroke
- Pasien dengan gangguan somatoform (pernah dibicarakan pada edisi pertama buletin ini) atau gangguan psikologis yang mempengaruhi kondisi fisiknya. Gangguan ini seringkali tidak disertai dengan bukti-bukti fisik yang mendukung adanya gangguan pada fisik pasien. Gangguan seperti inilah yang dahulu sering disebut sebagai gangguan psikosomatik. Contoh keadaan ini adalah ketika pasien mengeluh mengalami rasa sakit di seluruh tubuh yang berpindah-pindah yang ternyata dari hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain tidak ditemukan sesuatu yang bermakna dapat menjelaskan keadaan sakitnya. Kasus seperti ini banyak ditemukan pada pasien gangguan depresi dan gangguan cemas. Pasien dengan dengan gangguan psikiatrik yang merupakan hasil langsung dari penyakit yang dideritanya saat ini. Contohnya adalah demensia (pikun). Pasien demensia yang berat dapat mengalami gangguan psikologis dan perilaku. Kadang-kadang terdapat perilaku kacau tidak beraturan atau merasakan mendengar suara-suara halusinasi. Gejala-gejala seperti ini sering dialami apalagi dengan kondisi medis yang kurang baik
To improve the psychiatric care of patients with complex medical, surgical, obstetrical and neurological conditions
(American Board of Medical Specialties (ABMS) March 2003)
Untuk meningkatkan perawatan psikiatri atau kesehatan jiwa pada pasien-pasien dengan gangguan medis, bedah, kandungan dan saraf yang kompleks
(Dewan Kedokteran Spesialis Amerika, Maret 2003)
Pasien Apa Yang Bisa Berobat Ke Klinik Psikosomatik ???
- Pasien dengan penyakit medis, penyakit saraf atau penyakit bedah yang kondisinya akut atau kronis yang memiliki gangguan psikiatrik dan gangguan itu secara bermakna mempengaruhi perawatan dan kualitas hidup pasien. Contoh dari keadaan ini misalnya pasien diabetes (penyakit gula) yang mengalami depresi. Depresi pada penyakit diabetes bisa disebabkan karena seringkali penyakit ini menurunkan kemampuan pasien sebagai individu. Selain itu juga dalam bidang psikosomatik, terbukti adanya kaitan antara peran sistem dalam tubuh penderita diabetes yang memicu terjadinya depresi. Pasien luka bakar yang hebat juga bisa membuat si penderita merasa tidak mampu lagi menghadapi hidup. Seringkali pasien seperti ini jatuh ke dalam kecemasan dan depresi karena ketakutan akan hidupnya di masa depan. Pasien stroke juga sering kali (25%) mengalami depresi setelah serangan stroke-nya. Hal ini dapat diakibatkan karena kerusakan otak juga karena adanya cacat atau ketidakmampuan yang menetap akibat stroke
- Pasien dengan gangguan somatoform (pernah dibicarakan pada edisi pertama buletin ini) atau gangguan psikologis yang mempengaruhi kondisi fisiknya. Gangguan ini seringkali tidak disertai dengan bukti-bukti fisik yang mendukung adanya gangguan pada fisik pasien. Gangguan seperti inilah yang dahulu sering disebut sebagai gangguan psikosomatik. Contoh keadaan ini adalah ketika pasien mengeluh mengalami rasa sakit di seluruh tubuh yang berpindah-pindah yang ternyata dari hasil pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan lain tidak ditemukan sesuatu yang bermakna dapat menjelaskan keadaan sakitnya. Kasus seperti ini banyak ditemukan pada pasien gangguan depresi dan gangguan cemas. Pasien dengan dengan gangguan psikiatrik yang merupakan hasil langsung dari penyakit yang dideritanya saat ini. Contohnya adalah demensia (pikun). Pasien demensia yang berat dapat mengalami gangguan psikologis dan perilaku. Kadang-kadang terdapat perilaku kacau tidak beraturan atau merasakan mendengar suara-suara halusinasi. Gejala-gejala seperti ini sering dialami apalagi dengan kondisi medis yang kurang baik
Jumat, 06 Juni 2008
Mengapa Takut Pergi Ke Psikiater?
Banyak orang menganggap bahwa konsultasi ataupun berobat ke psikiater atau dokter ahli kesehatan jiwa hanya perlu bagi orang-orang yang mempunyai penyakit jiwa berat atau bahasa awamnya sudah GILA. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat tapi bahkan di kalangan sejawat dokter sendiri.Tidak banyak yang mengetahui bahwa kesehatan jiwa bukan sesempit demikian. Maka cukup melegakan ketika ada seorang ibu pasien yang mengatakan "Mengapa semua tetangga dia bingung saat dia mengajak anaknya datang ke psikiater untuk berkonsultasi masalah sekolah", dikira tetangganya, anaknya telah sakit dan mengalami gangguan jiwa berat.Padahal menurut si Ibu yang sebelumnya lama tinggal di Surabaya dan Semarang, di daerah tersebut Psikiater banyak berperan dalam konsultasi rumah tangga, sekolah, keluarga dan hal-hal lain. Tidak beda seperti meminta penjelasan dari seorang Pengacara tentang kasus hukum.Maka jangan takut untuk berkonsultasi ke Psikiater bila memang diperlukan
Kamis, 29 Mei 2008
Gangguan Panik
Gangguan Panik merupakan salah satu gangguan jiwa yang sering terdapat pada pasien-pasien yang berkunjung ke bagian kesehatan jiwa. Gejalanya yang juga sangat mirip dengan serangan jantung membuat pada awalnya pasien biasa datang ke Gawat Darurat atau ke dokter spesialis jantung/penyakit dalam.
Gang guan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba, dan di antara serangan panic tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panic ini juga telah mengganggu fungsi pasien baik pribadi dan sosial.
Di bawah ini dituliskan gejala-gejala serangan panik yang biasa terdapat pada pasien. Bila pasien mengalami 5 dari gejala ini yang berlangsung tiba-tiba dan berlangsung lebih kurang 10 menit, maka dia dapat dikatakan mengalami serangan panik.
1. Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung
2. Berkeringat
3. Badan terasa gemetar atau berguncang
4. Perasaan napas yang pendek
5. Perasaan seperti tercekik
6. Sakit dada atau perasaan tidak nyaman
7. Mual atau merasa tidak enak di perut
8. Merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan atau pingsan
9. Perasaan tidak nyata, merasa diri dan lingkungan seperti asing
10. Takut kehilangan kontrol atau menjadi gila
11. Takut mati
12. Kesemutan atau seperti baal
13. Rasa seperti terbakar atau kepanasan
Jika anda mengalami gejala tersebut sering dan disertai gangguan fungsi pribadi dan sosial, anda seharusnya segera berobat ke dokter kesehatan jiwa. Dokter kesehatan jiwa pertama kali akan menyingkirkan terlebih dahulu adanya kemungkinan diagnosis penyakit jantung atau penyakit yang dapat memberikan gejala-gejala mirip seperti serangan panik seperti gangguan tiroid (gondok). Bila semua sudah disingkirkan maka diagnosis gangguan panik dapat ditegakkan.
Pengobatan gangguan panik meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Biasanya pasien akan mendapatkan obat dalam jangka waktu tertentu (minimal 3 bulan) sambil terus dilatih agar bila serangan paniknya datang, pasien dapat mengatasinya. Pasien gangguan panik biasanya juga mempunyai latar belakang masalah psikologis yang nyata sehingga dokter kesehatan jiwa akan berusaha membantu pasine mengatasi hal tersebut.
Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter kesehatan jiwa bila mengalami gangguan panik.
Gang guan panik didiagnosis bila dalam waktu sebulan terakhir telah terjadi lebih dari 3 (tiga) kali serangan panik. Serangan panik ini terjadi tiba-tiba, dan di antara serangan panic tersebut pasien merasa khawatir jika dirinya mengalami keadaan itu lagi (kecemasan antisipasi). Serangan panic ini juga telah mengganggu fungsi pasien baik pribadi dan sosial.
Di bawah ini dituliskan gejala-gejala serangan panik yang biasa terdapat pada pasien. Bila pasien mengalami 5 dari gejala ini yang berlangsung tiba-tiba dan berlangsung lebih kurang 10 menit, maka dia dapat dikatakan mengalami serangan panik.
1. Jantung berdebar dan peningkatan denyut jantung
2. Berkeringat
3. Badan terasa gemetar atau berguncang
4. Perasaan napas yang pendek
5. Perasaan seperti tercekik
6. Sakit dada atau perasaan tidak nyaman
7. Mual atau merasa tidak enak di perut
8. Merasa pusing, tidak stabil, kepala terasa ringan atau pingsan
9. Perasaan tidak nyata, merasa diri dan lingkungan seperti asing
10. Takut kehilangan kontrol atau menjadi gila
11. Takut mati
12. Kesemutan atau seperti baal
13. Rasa seperti terbakar atau kepanasan
Jika anda mengalami gejala tersebut sering dan disertai gangguan fungsi pribadi dan sosial, anda seharusnya segera berobat ke dokter kesehatan jiwa. Dokter kesehatan jiwa pertama kali akan menyingkirkan terlebih dahulu adanya kemungkinan diagnosis penyakit jantung atau penyakit yang dapat memberikan gejala-gejala mirip seperti serangan panik seperti gangguan tiroid (gondok). Bila semua sudah disingkirkan maka diagnosis gangguan panik dapat ditegakkan.
Pengobatan gangguan panik meliputi pengobatan dengan obat dan psikoterapi. Biasanya pasien akan mendapatkan obat dalam jangka waktu tertentu (minimal 3 bulan) sambil terus dilatih agar bila serangan paniknya datang, pasien dapat mengatasinya. Pasien gangguan panik biasanya juga mempunyai latar belakang masalah psikologis yang nyata sehingga dokter kesehatan jiwa akan berusaha membantu pasine mengatasi hal tersebut.
Jangan malu untuk berkonsultasi dengan dokter kesehatan jiwa bila mengalami gangguan panik.
Jumat, 25 April 2008
Depresi Pasca Melahirkan
Setelah 39 minggu mengandung, akhirnya si kecil tiba juga dalam kehidupan Anda.
Semua orang ikut berbahagia dan Anda pun dituntut untuk terlihat bahagia sebagai
ibu baru bagi sang bayi imut yang tidak berdaya. Tetapi mengapa Anda justru
merasa sedih dan bingung? Jika si kecil menangis, Anda tidak merasa ingin
melindungi dan membuatnya nyaman justru turut menangis dan merasa tidak
berdaya. Rasa bersalah juga kerap datang, merasa Anda bukan orang tua yang baik
dan tidak becus dalam mengurus anak.
Baby Blues
Merasa kenal dengan skenario di atas? Mungkin yang Anda alami adalah baby blues
pasca melahirkan. Ibu yang baru melahirkan bisa merasakan perubahan mood yang
cepat dan berganti-ganti (mood swing), kesedihan, suka menangis, hilang nafsu
makan, gangguan tidur, mudah tersinggung, cepat lelah, cemas dan merasa
kesepian. Baby blues dapat terjadi segera setelah kelahiran, tetapi biasanya akan
berlalu dalam beberapa hari hingga beberapa minggu.
Gejalanya juga tidak terlalu berat dan bisa diatasi dengan meminta pengertian dari
pasangan untuk menemani di masa-masa sulit atau meminta bantuan dari pihak
keluarga atau sahabat untuk menemani dan menghibur sang ibu yang sedang
mengalami baby blues.
Kalau mungkin, cara yang lebih baik untuk melewati masa ini adalah mengobrol
dengan sesama ibu (baru atau lama) dan melakukan terapi kelompok informal
sehingga si ibu tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi masalahnya. Setelah
baby blues berlalu, Anda bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu.
Tetapi waspadai segera jika perasaan-perasaan negatif tidak juga hilang, malah
semakin parah. Penelitian menyebutkan bahwa sekitar 10 sampai 20 persen wanita
mengalami depresi setelah melahirkan. Depresi pasca melahirkan ini selain dapat
membuat penderitaan batin untuk si ibu, dapat juga merenggangkan hubungan
dengan pasangan dan bisa menyebabkan menurunnya fungsi sosial dan kualitas
hidup si ibu. Bahkan penelitian terbaru menunjukkan kalau ibu yang depresi bisa
menyebabkan gangguan emosional dan kognitif pada bayinya yang baru lahir.
Depresi Pasca Melahirkan
Depresi pasca melahirkan tidak selalu terjadi segera setelah melahirkan, dapat
terjadi kapan saja dalam waktu setahun setelah melahirkan. Namun lebih sering
terjadi satu bulan setelah melahirkan. Perbedaan paling mencolok antara baby blues
dan depresi pasca melahirkan adalah pasien dengan depresi akan mengalami
gangguan lebih lama dan memerlukan pengobatan segera. Tanda dan gejalanya pun
lebih berat daripada baby blues.
Gejala dan tanda yang timbul pada depresi pasca melahirkan sama dengan gejala
depresi umum; mood yang depresif, kehilangan minat dan rasa senang, aktifitas
motorik yang menurun, kehilangan atau penambahan berat badan yang sangat
terlihat tanpa diet, insomnia atau malah banyak tidur, merasa lelah setiap hari,
perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan, sulit
berkonsentrasi, pemikiran tentang kematian bahkan munculnya ide bunuh diri.
Pada satu penelitian di Hongkong pada wanita-wanita berdarah Asia, gejala yang
paling sering muncul adalah mood yang depresif, mudah menangis, kehilangan
minat dan kesenangan, menarik diri secara sosial, insomnia, kehilangan nafsu
makan, kurang konsentrasi, perasaan tidak berguna dan tak berdaya. Sering juga
dialami oleh pasien depresi pasca melahirkan rasa sakit fisik seperti sakit kepala atau
nyeri di punggung. Muncul ide menyakiti diri atau bahkan bunuh diri memang
muncul pada 15 persen responden, tetapi jarang terjadi pelaksanaan dari ide ini.
Penyebab Depresi Pasca Melahirkan
Telah banyak penelitian yang mencoba mencari faktor yang bisa menyebabkan
depresi pasca melahirkan. Beberapa di antaranya adalah:
• Depresi selama kehamilan
• Rasa rendah diri
• Stress dalam mengurus anak-anak
• Kecemasan sebelum melahirkan
• Hidup yang penuh tekanan
• Dukungan sosial rendah
• Kehidupan perkawinan kurang baik
• Riwayat depresi sebelumnya
• Bayi rewel atau bermasalah
• Baby blues
• Tingkat ekonomi yang rendah
• Kehamilan yang tidak direncanakan
Faktor-faktor di atas telah terbukti memiliki hubungan dengan depresi pasca
melahirkan. Contohnya, tingginya angka depresi sebelum melahirkan berhubungan
dengan tingginya angka depresi sesudah melahirkan, begitu juga sebaliknya. Tetapi
hubungan ini tidak selalu berarti bahwa depresi sebelum melahirkan dapat
menyebabkan depresi pasca melahirkan. Tetapi ada beberapa faktor yang hampir
selalu menyebabkan depresi pasca melahirkan, seperti misalnya, kurangnya
dukungan sosial.
Meskipun banyak pendapat menyatakan bahwa perubahan hormonal pasca
melahirkan dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan, tetapi sedikit bukti yang
menunjukkan kedua hal ini berhubungan secara langsung. Beberapa penelitian
bahkan gagal untuk mencari hubungan antara perubahan hormon dan depresi pasca
melahirkan. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa hormon tidak memiliki andil dalam
munculnya depresi pasca melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa ada sebagian
wanita yang sensitif terhadap perubahan hormonal dalam tubuhnya, baik selama
maupun setelah melahirkan.
Mencari Pertolongan
Pada dasarnya perawatan depresi pasca melahirkan sama dengan pasien depresi
pada umumnya; melalu psikoterapi dan farmakoterapi. Kalau depresinya termasuk
ringan, pilihan pertama adalah konseling psikologis dan intervensi sosial sesuai
dengan kebutuhan pasien. Apalagi kalau penyebab depresi tersebut karena tekanan
psikososial dan kurangnya dukungan dari keluarga dan sahabat. Pada kasus depresi
ringan, dengan dukungan dan bantuan seluruh anggota keluarga terhadap sang ibu
dapat memperbaiki gangguannya. Psikoterapi interpersonal juga dapat memperbaiki
hubungan dengan anggota keluarga lain yang pada akhirnya berguna bagi
kesembuhan pasien depresi pasca melahirkan.
Pada kasus yang lebih berat, perawatan dengan antidepresan mungkin diperlukan.
Di masa lalu, penggunaan antidepresan trisiklik sangat luas dalam perawatan depresi
sebelum dan setelah melahirkan. Tetapi saat ini dikenal antidepresan golongan baru
seperti SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) dengan efek samping
penenang yang rendah bisa menjadi pilihan bagi ibu yang tidak menyusui. Dengan
efek samping penenang yang rendah ini memungkinkan ibu menjaga bayinya di
malam hari.
Perhatian ekstra perlu diberikan bagi ibu yang mengalami depresi tetapi tetap ingin
menyusui bayinya. Fluoxetine dianggap aman bagi ibu hamil dan menyusui pada
beberapa penelitian. Walaupun demikian, penggunaan obat antidepresan untuk
pasien depresi pasca melahirkan tetap harus dipertimbangkan matang-matang
untung dan ruginya. Beberapa penelitian menyatakan bahwa pengobatan secara
psikologis sama efektifnya dengan farmakoterapi. Konsultasikan lebih lanjut kepada
dokter Anda untuk perawatan yang paling cocok untuk Anda.
Artikel ini pernah dimuat di majalah Health Today edisi Okt'06
Semua orang ikut berbahagia dan Anda pun dituntut untuk terlihat bahagia sebagai
ibu baru bagi sang bayi imut yang tidak berdaya. Tetapi mengapa Anda justru
merasa sedih dan bingung? Jika si kecil menangis, Anda tidak merasa ingin
melindungi dan membuatnya nyaman justru turut menangis dan merasa tidak
berdaya. Rasa bersalah juga kerap datang, merasa Anda bukan orang tua yang baik
dan tidak becus dalam mengurus anak.
Baby Blues
Merasa kenal dengan skenario di atas? Mungkin yang Anda alami adalah baby blues
pasca melahirkan. Ibu yang baru melahirkan bisa merasakan perubahan mood yang
cepat dan berganti-ganti (mood swing), kesedihan, suka menangis, hilang nafsu
makan, gangguan tidur, mudah tersinggung, cepat lelah, cemas dan merasa
kesepian. Baby blues dapat terjadi segera setelah kelahiran, tetapi biasanya akan
berlalu dalam beberapa hari hingga beberapa minggu.
Gejalanya juga tidak terlalu berat dan bisa diatasi dengan meminta pengertian dari
pasangan untuk menemani di masa-masa sulit atau meminta bantuan dari pihak
keluarga atau sahabat untuk menemani dan menghibur sang ibu yang sedang
mengalami baby blues.
Kalau mungkin, cara yang lebih baik untuk melewati masa ini adalah mengobrol
dengan sesama ibu (baru atau lama) dan melakukan terapi kelompok informal
sehingga si ibu tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi masalahnya. Setelah
baby blues berlalu, Anda bisa merasakan nikmatnya menjadi seorang ibu.
Tetapi waspadai segera jika perasaan-perasaan negatif tidak juga hilang, malah
semakin parah. Penelitian menyebutkan bahwa sekitar 10 sampai 20 persen wanita
mengalami depresi setelah melahirkan. Depresi pasca melahirkan ini selain dapat
membuat penderitaan batin untuk si ibu, dapat juga merenggangkan hubungan
dengan pasangan dan bisa menyebabkan menurunnya fungsi sosial dan kualitas
hidup si ibu. Bahkan penelitian terbaru menunjukkan kalau ibu yang depresi bisa
menyebabkan gangguan emosional dan kognitif pada bayinya yang baru lahir.
Depresi Pasca Melahirkan
Depresi pasca melahirkan tidak selalu terjadi segera setelah melahirkan, dapat
terjadi kapan saja dalam waktu setahun setelah melahirkan. Namun lebih sering
terjadi satu bulan setelah melahirkan. Perbedaan paling mencolok antara baby blues
dan depresi pasca melahirkan adalah pasien dengan depresi akan mengalami
gangguan lebih lama dan memerlukan pengobatan segera. Tanda dan gejalanya pun
lebih berat daripada baby blues.
Gejala dan tanda yang timbul pada depresi pasca melahirkan sama dengan gejala
depresi umum; mood yang depresif, kehilangan minat dan rasa senang, aktifitas
motorik yang menurun, kehilangan atau penambahan berat badan yang sangat
terlihat tanpa diet, insomnia atau malah banyak tidur, merasa lelah setiap hari,
perasaan tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebihan, sulit
berkonsentrasi, pemikiran tentang kematian bahkan munculnya ide bunuh diri.
Pada satu penelitian di Hongkong pada wanita-wanita berdarah Asia, gejala yang
paling sering muncul adalah mood yang depresif, mudah menangis, kehilangan
minat dan kesenangan, menarik diri secara sosial, insomnia, kehilangan nafsu
makan, kurang konsentrasi, perasaan tidak berguna dan tak berdaya. Sering juga
dialami oleh pasien depresi pasca melahirkan rasa sakit fisik seperti sakit kepala atau
nyeri di punggung. Muncul ide menyakiti diri atau bahkan bunuh diri memang
muncul pada 15 persen responden, tetapi jarang terjadi pelaksanaan dari ide ini.
Penyebab Depresi Pasca Melahirkan
Telah banyak penelitian yang mencoba mencari faktor yang bisa menyebabkan
depresi pasca melahirkan. Beberapa di antaranya adalah:
• Depresi selama kehamilan
• Rasa rendah diri
• Stress dalam mengurus anak-anak
• Kecemasan sebelum melahirkan
• Hidup yang penuh tekanan
• Dukungan sosial rendah
• Kehidupan perkawinan kurang baik
• Riwayat depresi sebelumnya
• Bayi rewel atau bermasalah
• Baby blues
• Tingkat ekonomi yang rendah
• Kehamilan yang tidak direncanakan
Faktor-faktor di atas telah terbukti memiliki hubungan dengan depresi pasca
melahirkan. Contohnya, tingginya angka depresi sebelum melahirkan berhubungan
dengan tingginya angka depresi sesudah melahirkan, begitu juga sebaliknya. Tetapi
hubungan ini tidak selalu berarti bahwa depresi sebelum melahirkan dapat
menyebabkan depresi pasca melahirkan. Tetapi ada beberapa faktor yang hampir
selalu menyebabkan depresi pasca melahirkan, seperti misalnya, kurangnya
dukungan sosial.
Meskipun banyak pendapat menyatakan bahwa perubahan hormonal pasca
melahirkan dapat menyebabkan depresi pasca melahirkan, tetapi sedikit bukti yang
menunjukkan kedua hal ini berhubungan secara langsung. Beberapa penelitian
bahkan gagal untuk mencari hubungan antara perubahan hormon dan depresi pasca
melahirkan. Tetapi hal ini bukan berarti bahwa hormon tidak memiliki andil dalam
munculnya depresi pasca melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa ada sebagian
wanita yang sensitif terhadap perubahan hormonal dalam tubuhnya, baik selama
maupun setelah melahirkan.
Mencari Pertolongan
Pada dasarnya perawatan depresi pasca melahirkan sama dengan pasien depresi
pada umumnya; melalu psikoterapi dan farmakoterapi. Kalau depresinya termasuk
ringan, pilihan pertama adalah konseling psikologis dan intervensi sosial sesuai
dengan kebutuhan pasien. Apalagi kalau penyebab depresi tersebut karena tekanan
psikososial dan kurangnya dukungan dari keluarga dan sahabat. Pada kasus depresi
ringan, dengan dukungan dan bantuan seluruh anggota keluarga terhadap sang ibu
dapat memperbaiki gangguannya. Psikoterapi interpersonal juga dapat memperbaiki
hubungan dengan anggota keluarga lain yang pada akhirnya berguna bagi
kesembuhan pasien depresi pasca melahirkan.
Pada kasus yang lebih berat, perawatan dengan antidepresan mungkin diperlukan.
Di masa lalu, penggunaan antidepresan trisiklik sangat luas dalam perawatan depresi
sebelum dan setelah melahirkan. Tetapi saat ini dikenal antidepresan golongan baru
seperti SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) dengan efek samping
penenang yang rendah bisa menjadi pilihan bagi ibu yang tidak menyusui. Dengan
efek samping penenang yang rendah ini memungkinkan ibu menjaga bayinya di
malam hari.
Perhatian ekstra perlu diberikan bagi ibu yang mengalami depresi tetapi tetap ingin
menyusui bayinya. Fluoxetine dianggap aman bagi ibu hamil dan menyusui pada
beberapa penelitian. Walaupun demikian, penggunaan obat antidepresan untuk
pasien depresi pasca melahirkan tetap harus dipertimbangkan matang-matang
untung dan ruginya. Beberapa penelitian menyatakan bahwa pengobatan secara
psikologis sama efektifnya dengan farmakoterapi. Konsultasikan lebih lanjut kepada
dokter Anda untuk perawatan yang paling cocok untuk Anda.
Artikel ini pernah dimuat di majalah Health Today edisi Okt'06
Langganan:
Postingan (Atom)