Tanggal 23 November 2008 jam 10.00-selesai, saya bersama tim Sex Clinic Omni International Hospital akan berbicara hal-hal terkait di dalam Hubungan Seksual Pasangan Suami Istri. Sebagai seorang Psikiater saya mempunyai tugas untuk memberikan presentasi tentang Peranan Psikologis Dalam Fungsi Seksual Manusia.
Bila ada yang berminat datang, dapat menghubungi Vero Bagian Marketing di telp (021) 5312 5555 ext. 8568
Sampai bertemu di Seminar
Senin, 10 November 2008
Senin, 20 Oktober 2008
KONGRES NASIONAL SKIZOFRENIA KE-5 : CLOSING THE TREATMENT GAP FOR SCHIZOPHRENIA
Tanggal 24-26 Oktober 2008 bertempat di Lombok, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Seksi Skizofrenia akan mengadakan kembali Kongres Nasional Skizofrenia. Kongres dua tahunan yang diadakan kelima kalinya ini tahun ini mengambil tema “CLOSING THE TREATMENT GAP FOR SCHIZOPHRENIA”. Tema ini diambil tentunya bukan tanpa alasan. Sampai saat ini informasi tentang gangguan jiwa Skizofrenia masih sangat minim. Masyrakat juga mengenal gangguan jiwa ini sebagai gangguan yang berat, memalukan dan perlu dihindari pasien maupun keluarganya. Stigma “GILA” sudah begitu lekat dengan pasien skizofrenia dan keluarganya. Hal ini belum lagi ditambah dengan kondisi gangguan jiwa seperti Skizofrenia yang pada beberapa kondisi memerlukan penanganan yang menyeluruh. Sayangnya ada kalanya terdapat perbedaan pendapat dalam menatalaksana pasien gangguan jiwa berat seperti Skizofrenia sehingga terkadang menimbulkan “gap” dalam tatalaksana di praktek klinis sendiri.
Lebih Jauh Mengenai Skizofrenia
Pasien skizofrenia seringkali luput dari perhatian kita. Data demografik menyatakan terdapat sekitar 1% populasi dunia yang menderita gangguan jiwa jenis ini, suatu jumlah yang sangat besar dengan populasi manusia dunia saat ini. Hal ini karena berhubungan dengan beban masyarakat dan Negara yang ditanggung karena penyakit ini. Dalam masyarakat pasien skizofrenia sering dianggap sudah tidak punya perasaan lagi dan terkadang dianggap berbahaya. Padahal mereka juga pasien yang sangat membutuhkan perhatian dari dokter dan keluarga serta masyarakat. Seringkali pasien dengan gangguan skizofrenia menjadi bulan-bulanan masyarakat. Mereka lebih sering disebut masyarakat sebagai orang gila. Stigma yang begitu melekat pada pasien gangguan skizofrenia adalah mereka berbahaya. Padahal pasien gangguan skizofrenia yang mempunyai kecenderungan berperilaku kekerasan hanya sebagian kecil saja yaitu tidak lebih dari 1 (satu) persen, itupun biasanya terjadi pada kondisi akut. Bila dalam perawatan, pasien kebanyakan tenang dan dapat mengendalikan diri. Selain itu kekerasan yang dilakukan pasien merupakan suatu tanda dan gejala dari manifestasi penyakitnya.
Tidak seperti penyakit fisik yang mempunyai target organ yang bermanifestasi pada gejala dan tanda fisik yang terdapat pada pasien, gangguan skizofrenia seperti umumnya gangguan jiwa mempunyai manifestasi tanda dan gejalanya pada perasaan (affective), perilaku (behavior) dan pikiran (cognition). Bila dibagi dalam bagian besar maka gejala klinis pasien skizofrenia dapat dibagi menjadi gejala negatif (menghindari pergaulan sosial, berdiam diri, afek yang tumpul sampai datar, tidak ada semangat untuk beraktivitas) serta gejala positif (gaduh gelisah, waham, halusinasi, bicara kacau). Maka tak heran jika orang lain melihat kalau pasien skizofrenia seringkali berperilaku dan mempunyai pikiran aneh. Hal itu sebenarnya merupakan manifestasi dari penyakitnya sendiri.
Banyak pasien skizofrenia yang dapat kembali menjalani kehidupan normal. Mereka mampu menyelesaikan pendidikannya dan dapat bekerja seperti kebanyakan orang. Sampai saat ini gangguan skizofrenia tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Beberapa ahli mengatakan adanya suatu hubungan antara sistem dopaminergik di otak dengan penyakit skizofrenia ini. Hipotesis tentang sistem dopamin ini mengatakan terdapat aktivitas yang berlebihan dari sistem ini. Jaras yang dianggap paling berperan terhadap timbulnya gejala terutama waham dan halusinasi adalah jaras mesolimbik, sehingga sampai saat ini pengobatan oleh obat-obat antipsikotik bertujuan untuk menurunkan aktivitas dari sistem yang terlibat ini. Belakangan penelitian juga mengungkapkan adanya peranan dari sistem lain seperti sistem serotonergik.
Bagaimana mengenali tanda-tanda skizofrenia?
Penyakit ini mempunyai beberapa tanda dan gejala, yang paling sering antara lain adalah Waham; yaitu suatu keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan latar belakang sosial budaya serta pendidikan pasien, namun dipertahankan oleh pasien dan tidak dapat ditangguhkan. Beberapa pasien skizofrenia mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau beberapa orang yang berniat jahat terhadap pasien. Ada pula pasien yang yakin bahwa ia adalah orang yang istimewa, seperti raja atau nabi dan mempunyai kekuatan yang istimewa juga.
Halusinasi ; gangguan persepsi ini membuat pasien skizofrenia dapat melihat sesuatu atau mendengar suara yang tidak ada sumbernya. Halusinasi yang sering terdapat pada pasien adalah halusinasi auditorik (pendengaran). Terkadang juga terdapat halusinasi penglihatan dan halusinasi perabaan.
Siar pikiran yaitu pasien merasa bahwa pikirannya dapat disiarkan melalui alat-alat bantu elektronik atau merasa pikirannya dapat dibaca oleh orang lain. Terkadang pasien dapat mengatakan bahwa dirinya dapat berbincang-bincang dengan penyiar televisi maupun radio. Beberapa pasien juga mengatakan pikirannya dimasuki oleh pikiran atau kekuatan lain atau ditarik/diambil oleh kekuatan lain
Selain gejala di atas yang merupakan gangguan terhadap isi pikiran dan persepsi pasien, manifestasi gangguan skizofrenia juga terdapat pada proses pikirnya. Pada beberapa pasien terutama yang akut atau jenis skizofrenia hebefrenik terdapat proses pikir yang sangat kacau atau terdapat asosiasi longgar. Orang awam lebih sering menyebut sebagai pembicaraan yang ngaco atau ngawur. Seringkali terdapat ketidakserasian antara isi pikiran dengan mood yang dapat kita lihat dari ekspresi pasien saat bercerita tentang keadaan dirinya. Perilaku gaduh gelisah pada pasien skizofrenia biasanya merupakan reaksi terhadap waham (biasanya waham paranoid) dan halusinasi auditorik yang bersifat memerintah
Apa yang harus dilakukan ?
Penatalaksanaan gangguan jiwa secara umum dilihat dengan memakai pendekatan Biopsikososial yang artinya bahwa gangguan jiwa tidak hanya melibatkan satu faktor saja namun ketiga faktor yaitu biologi (genetik), psikologi dan sosial . Penelitian mengungkapkan adanya faktor genetik yang berperan terjadinya penyakit ini. Dalam wawancara selalu ditanyakan adanya riwayat keluarga yang mempunyai gangguan jiwa. Selain itu telah diketahui dari penelitian bahwa skizofrenia mempunyai dasar kelainan biologi yang kuat. Dalam hal ini adalah adanya hiperaktivitas dari sistem dopamin di dalam otak. Sehingga pengobatan sangat diperlukan bagi penderita skizofrenia. Harus diperhatikan dalam pemakaian obat-obatan antipsikotik, bahwa untuk episode pertama maka diharapkan pasien dapat makan obat tanpa putus selama kurang lebih 1 tahun. Nantinya akan dilihat perkembangan oleh psikiater yang merawat apakah perlu dilanjutkan atau dihentikan. Bila dilanjutkan maka biasanya hanya dalam dosis pemeliharaan yang biasanya lebih kecil daripada dosis awal. Bila pasien sudah mengalami beberapa episode bahkan mempunyai kecenderungan berulang kali kambuh dalam jangka waktu yang pendek (biasanya ditetapkan 1 tahun) maka biasanya obat yang diberikan akan bertahan sekitar 3-5 tahun atau seumur hidup.
Ketakutan dari keluarga adalah pasien akan mengalami ketergantungan obat. Hal ini salah karena penyakit skizofrenia haruslah dianggap seperti layaknya penyakit lain seperti jantung dan hipertensi yang juga membutuhkan pengobatan seumur hidup. Konsep ketergantungan sendiri sering disalahartikan pasien sebagai layaknya ketergantungan terhadap narkoba. Sehingga beberapa pasien memutuskan untuk berhenti berobat dan akhirnya terkadang kambuh kembali dengan keadaan yang lebih berat daripada saat awal penyakit ini. Padahal biasanya dalam pengobatan akan terjadi penurunan dosis sampai dosis minimal yang dapat menghilangkan gejala skizofrenia itu sendiri.
Selain dengan psikofarmaka, pengobatan skizofrenia juga melibatkan semua pihak dari keluarga. Hal ini untuk mencegah keberulangan penyakit yang sering. Beberapa kepustakaan mengatakan bahwa ekspresi emosi (disingkat EE) keluarga sangat berperan dalam keberulangan penyakit skizofrenia. Ekspresi emosi adalah segala tindakan yang dianggap dapat menyudutkan pasien dan menjadikan suatu tekanan yang dapat memicu keberulangan penyakit ini. Contohnya adalah harapan atau tuntutan yang terlalu besar terhadap pasien, sikap menyalahkan, membatasi pergaulan pasien karena merasa malu, atau memperlakukan pasien seenaknya karena dianggap sudah tidak punya perasaan. Terapi okupasi membantu pasien untuk dapat mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang berguna dan kalau mungkin menghasilkan. Gejala negatif yang seringkali muncul sesudah masa akut terlewati dapat dibantu dengan terapi jenis ini. Keluarga juga diharapkan aktif dalam melibatkan pasien sebanyak mungkin dalam aktivitas keluarga.
Dengan penatalaksanaan yang tepat maka pasien skizofrenia dapat hidup secara normal seperti pasien-pasien lainnya. Banyak di antara mereka yang dapat berhasil menyelesaikan pendidikan dan dapat bekerja pada orang lain atau berwiraswasta. Beberapa di antaranya dapat menikah dan mempunyai keluarga. Tanggalkanlah stigma yang mengerikan dari mereka. Jangan anggap mereka berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup orang di sekeliling mereka. Sebenarnya merekapun sama seperti manusia lain. Kita semua dapat mulai belajar melepaskan sedikit-demi sedikit stigma tersebut dengan mengawali tidak menyebut mereka dengan istilah ORANG GILA.
Lebih Jauh Mengenai Skizofrenia
Pasien skizofrenia seringkali luput dari perhatian kita. Data demografik menyatakan terdapat sekitar 1% populasi dunia yang menderita gangguan jiwa jenis ini, suatu jumlah yang sangat besar dengan populasi manusia dunia saat ini. Hal ini karena berhubungan dengan beban masyarakat dan Negara yang ditanggung karena penyakit ini. Dalam masyarakat pasien skizofrenia sering dianggap sudah tidak punya perasaan lagi dan terkadang dianggap berbahaya. Padahal mereka juga pasien yang sangat membutuhkan perhatian dari dokter dan keluarga serta masyarakat. Seringkali pasien dengan gangguan skizofrenia menjadi bulan-bulanan masyarakat. Mereka lebih sering disebut masyarakat sebagai orang gila. Stigma yang begitu melekat pada pasien gangguan skizofrenia adalah mereka berbahaya. Padahal pasien gangguan skizofrenia yang mempunyai kecenderungan berperilaku kekerasan hanya sebagian kecil saja yaitu tidak lebih dari 1 (satu) persen, itupun biasanya terjadi pada kondisi akut. Bila dalam perawatan, pasien kebanyakan tenang dan dapat mengendalikan diri. Selain itu kekerasan yang dilakukan pasien merupakan suatu tanda dan gejala dari manifestasi penyakitnya.
Tidak seperti penyakit fisik yang mempunyai target organ yang bermanifestasi pada gejala dan tanda fisik yang terdapat pada pasien, gangguan skizofrenia seperti umumnya gangguan jiwa mempunyai manifestasi tanda dan gejalanya pada perasaan (affective), perilaku (behavior) dan pikiran (cognition). Bila dibagi dalam bagian besar maka gejala klinis pasien skizofrenia dapat dibagi menjadi gejala negatif (menghindari pergaulan sosial, berdiam diri, afek yang tumpul sampai datar, tidak ada semangat untuk beraktivitas) serta gejala positif (gaduh gelisah, waham, halusinasi, bicara kacau). Maka tak heran jika orang lain melihat kalau pasien skizofrenia seringkali berperilaku dan mempunyai pikiran aneh. Hal itu sebenarnya merupakan manifestasi dari penyakitnya sendiri.
Banyak pasien skizofrenia yang dapat kembali menjalani kehidupan normal. Mereka mampu menyelesaikan pendidikannya dan dapat bekerja seperti kebanyakan orang. Sampai saat ini gangguan skizofrenia tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Beberapa ahli mengatakan adanya suatu hubungan antara sistem dopaminergik di otak dengan penyakit skizofrenia ini. Hipotesis tentang sistem dopamin ini mengatakan terdapat aktivitas yang berlebihan dari sistem ini. Jaras yang dianggap paling berperan terhadap timbulnya gejala terutama waham dan halusinasi adalah jaras mesolimbik, sehingga sampai saat ini pengobatan oleh obat-obat antipsikotik bertujuan untuk menurunkan aktivitas dari sistem yang terlibat ini. Belakangan penelitian juga mengungkapkan adanya peranan dari sistem lain seperti sistem serotonergik.
Bagaimana mengenali tanda-tanda skizofrenia?
Penyakit ini mempunyai beberapa tanda dan gejala, yang paling sering antara lain adalah Waham; yaitu suatu keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan latar belakang sosial budaya serta pendidikan pasien, namun dipertahankan oleh pasien dan tidak dapat ditangguhkan. Beberapa pasien skizofrenia mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atau beberapa orang yang berniat jahat terhadap pasien. Ada pula pasien yang yakin bahwa ia adalah orang yang istimewa, seperti raja atau nabi dan mempunyai kekuatan yang istimewa juga.
Halusinasi ; gangguan persepsi ini membuat pasien skizofrenia dapat melihat sesuatu atau mendengar suara yang tidak ada sumbernya. Halusinasi yang sering terdapat pada pasien adalah halusinasi auditorik (pendengaran). Terkadang juga terdapat halusinasi penglihatan dan halusinasi perabaan.
Siar pikiran yaitu pasien merasa bahwa pikirannya dapat disiarkan melalui alat-alat bantu elektronik atau merasa pikirannya dapat dibaca oleh orang lain. Terkadang pasien dapat mengatakan bahwa dirinya dapat berbincang-bincang dengan penyiar televisi maupun radio. Beberapa pasien juga mengatakan pikirannya dimasuki oleh pikiran atau kekuatan lain atau ditarik/diambil oleh kekuatan lain
Selain gejala di atas yang merupakan gangguan terhadap isi pikiran dan persepsi pasien, manifestasi gangguan skizofrenia juga terdapat pada proses pikirnya. Pada beberapa pasien terutama yang akut atau jenis skizofrenia hebefrenik terdapat proses pikir yang sangat kacau atau terdapat asosiasi longgar. Orang awam lebih sering menyebut sebagai pembicaraan yang ngaco atau ngawur. Seringkali terdapat ketidakserasian antara isi pikiran dengan mood yang dapat kita lihat dari ekspresi pasien saat bercerita tentang keadaan dirinya. Perilaku gaduh gelisah pada pasien skizofrenia biasanya merupakan reaksi terhadap waham (biasanya waham paranoid) dan halusinasi auditorik yang bersifat memerintah
Apa yang harus dilakukan ?
Penatalaksanaan gangguan jiwa secara umum dilihat dengan memakai pendekatan Biopsikososial yang artinya bahwa gangguan jiwa tidak hanya melibatkan satu faktor saja namun ketiga faktor yaitu biologi (genetik), psikologi dan sosial . Penelitian mengungkapkan adanya faktor genetik yang berperan terjadinya penyakit ini. Dalam wawancara selalu ditanyakan adanya riwayat keluarga yang mempunyai gangguan jiwa. Selain itu telah diketahui dari penelitian bahwa skizofrenia mempunyai dasar kelainan biologi yang kuat. Dalam hal ini adalah adanya hiperaktivitas dari sistem dopamin di dalam otak. Sehingga pengobatan sangat diperlukan bagi penderita skizofrenia. Harus diperhatikan dalam pemakaian obat-obatan antipsikotik, bahwa untuk episode pertama maka diharapkan pasien dapat makan obat tanpa putus selama kurang lebih 1 tahun. Nantinya akan dilihat perkembangan oleh psikiater yang merawat apakah perlu dilanjutkan atau dihentikan. Bila dilanjutkan maka biasanya hanya dalam dosis pemeliharaan yang biasanya lebih kecil daripada dosis awal. Bila pasien sudah mengalami beberapa episode bahkan mempunyai kecenderungan berulang kali kambuh dalam jangka waktu yang pendek (biasanya ditetapkan 1 tahun) maka biasanya obat yang diberikan akan bertahan sekitar 3-5 tahun atau seumur hidup.
Ketakutan dari keluarga adalah pasien akan mengalami ketergantungan obat. Hal ini salah karena penyakit skizofrenia haruslah dianggap seperti layaknya penyakit lain seperti jantung dan hipertensi yang juga membutuhkan pengobatan seumur hidup. Konsep ketergantungan sendiri sering disalahartikan pasien sebagai layaknya ketergantungan terhadap narkoba. Sehingga beberapa pasien memutuskan untuk berhenti berobat dan akhirnya terkadang kambuh kembali dengan keadaan yang lebih berat daripada saat awal penyakit ini. Padahal biasanya dalam pengobatan akan terjadi penurunan dosis sampai dosis minimal yang dapat menghilangkan gejala skizofrenia itu sendiri.
Selain dengan psikofarmaka, pengobatan skizofrenia juga melibatkan semua pihak dari keluarga. Hal ini untuk mencegah keberulangan penyakit yang sering. Beberapa kepustakaan mengatakan bahwa ekspresi emosi (disingkat EE) keluarga sangat berperan dalam keberulangan penyakit skizofrenia. Ekspresi emosi adalah segala tindakan yang dianggap dapat menyudutkan pasien dan menjadikan suatu tekanan yang dapat memicu keberulangan penyakit ini. Contohnya adalah harapan atau tuntutan yang terlalu besar terhadap pasien, sikap menyalahkan, membatasi pergaulan pasien karena merasa malu, atau memperlakukan pasien seenaknya karena dianggap sudah tidak punya perasaan. Terapi okupasi membantu pasien untuk dapat mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang berguna dan kalau mungkin menghasilkan. Gejala negatif yang seringkali muncul sesudah masa akut terlewati dapat dibantu dengan terapi jenis ini. Keluarga juga diharapkan aktif dalam melibatkan pasien sebanyak mungkin dalam aktivitas keluarga.
Dengan penatalaksanaan yang tepat maka pasien skizofrenia dapat hidup secara normal seperti pasien-pasien lainnya. Banyak di antara mereka yang dapat berhasil menyelesaikan pendidikan dan dapat bekerja pada orang lain atau berwiraswasta. Beberapa di antaranya dapat menikah dan mempunyai keluarga. Tanggalkanlah stigma yang mengerikan dari mereka. Jangan anggap mereka berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup orang di sekeliling mereka. Sebenarnya merekapun sama seperti manusia lain. Kita semua dapat mulai belajar melepaskan sedikit-demi sedikit stigma tersebut dengan mengawali tidak menyebut mereka dengan istilah ORANG GILA.
Kamis, 14 Agustus 2008
Siaran Radio di SONORA
On Air di Radio SONORA 92.0 FM
Topik : PSIKOSOMATIK
Hari/Tanggal : Kamis/21 Agustus 2008
Jam : 09.00 - 10.00
Topik : PSIKOSOMATIK
Hari/Tanggal : Kamis/21 Agustus 2008
Jam : 09.00 - 10.00
Jumat, 01 Agustus 2008
Fakultas Kedokteran Masih Jadi PIlihan
Dini hari tadi diumumkan hasil SNMPTN alias Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Ternyata peminat Fakultas Kedokteran masih menempati tempat teratas dibandingkan dengan ilmu studi lain. Bidang lain yang diminati selain Kedokteran adalah Teknik Informatika, Farmasi dan Desain Grafis.Tentunya sangat menarik melihat hal ini, di tengah-tengah besarnya biaya pendidikan kedokteran yang semakin tinggi karena tuntutan fasilitas, fakultas kedokteran masih menjadi favorit calon mahasiswa negeri.Saya menjadi ingat akan diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu. Di masa akhir sekolah menengah atas saya baru menentukan pilihan saya untuk menjadi seorang dokter. Itupun kalau saya diterima di Fakultas Negeri karena keuangan yang tidak memungkinkan bila harus masuk swasta. Saya berpikiran saat itu lebih baik tidak menjadi dokter bila harus kuliah di Swasta yang uang masuknya saja berpuluh juta. Untuk itu pilihan saya jatuh ke Universitas Indonesia dan Universitas Diponegoro. Beruntung sekali saya dapat diterima di FKUI sehingga mimpi menjadi dokter rasanya akan menjadi kenyataan.Saya masih merasakan murahnya pendidikan dokter, walaupun memnag bila dibandingkan dengan beberap tahun sebelum saya, masih lebih mahal biaya yang ditanggung angkatan saya saat itu (1997). Tapi saya tidak mengeluarkan uang sampai lima juta untuk masuk FKUI saat itu. Lepas pendidikan dokter umum membuat saya berpikir untuk segera meneruskan pendidikan Spesialis di FKUI juga dan mengambil bidang Kedokteran Jiwa. Saat itu saya berpikir menjadi dokter umum itu tidaklah keren dan kurang gengsinya dibandingkan dengan dokter spesialis.
Dokter Pasti Kaya?
Rasanya pendapat di atas sering ditunjukkan kepada dokter. Selain memiliki posisi terhormat di masyarakat terutama di daerah-daerah yang masih kurang dokternya, profesi ini juga menjamin orang yang menggelutinya tidak akan kekurangan bila mau berusaha. Sama sepertinya kiat ini buat semua jurusan, tapi independensi seorang dokter membuat dia lebih tidak tergantung orang lain untuk mendapatkan nafkah. Guru saya pernah berkata, sebenarnya menjadi dokter itu tidak akan pernah bisa terlalu kaya bila mengikuti aturan yang berlaku. Sebab menurut beliau kalau dokter kaya itu biasanya akan dikompensasikan dengan banyaknya waktu yang harus dialokasikan untuk praktek saja. Kenyataannya memang banyak dokter-dokter senior yang bisa praktek sampai dini hari karena tidak mampu menolak pasien. Ini sangat berbeda dengan beberapa negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura yang membatasi jumlah pasien yang bisa ditangani oleh seorang dokter. Hal inilah yang sering dikeluhkan pasien kalau dokter Indonesia kurang komunikatif karena selalu terburu-buru. Tentu saja akan terburu-buru karena kalau tidak pasien akan tidak terlayani dan si dokter tidak bisa tidur. Tapi untuk mencapai hal tersebut sebenarnya dokter akan merintis dari bawah bukan berlangsung tiba-tiba. Jadi kalau baru saja lulus jangan harapkan langsung mendapatkan uang yang banyak.
Masih Pekerjaaan Mulia
Semua orang mengakui bahwa menjadi dokter adalah suatu pekerjaan mulia. Bahkan pakar Marketing seperti Hermawan Kartajaya pun berpendapat demikian. Ini dikarenakan karena pekerjaannya berhubungan dengan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia yaitu Kesehatan. Tanpa kesehatan sekaya apapun orang itu tidak akan berguna. Tapi tentunya menjadi dokter yang mulia tidaklah gampang, harus ada suatu komitmen terus menerus yang tidak kenal henti dari si dokter. Berhubungan dengan begitu banyak pasien tentunya tidak akan selalu memberikan hasil yang diharapkan pasien. Namun si dokter harus terus berusaha meningkatkan kemampuannya dalam mengobati pasien yang datang kepadanyaSaya berharap calon-calon teman sejawat yang akan menempuh pendidikan dokter dapat terus memaknai nilai-nilai yang terkandung dalam profesi mulia ini. Jangan hanya berpikir untuk menjadi kaya bila ingin menjadi dokter karena kalian akan kecewa. Jangan pula berpikir untuk segera "Balik Modal" sesaat setelah menjadi dokter nanti karena ini akan menjebak anda dalam praktek kedokteran yang tidak etis. Semoga niat baik kita semua yang ingin menjadi Dokter selalu terpelihara sepanjang masa
Dokter Pasti Kaya?
Rasanya pendapat di atas sering ditunjukkan kepada dokter. Selain memiliki posisi terhormat di masyarakat terutama di daerah-daerah yang masih kurang dokternya, profesi ini juga menjamin orang yang menggelutinya tidak akan kekurangan bila mau berusaha. Sama sepertinya kiat ini buat semua jurusan, tapi independensi seorang dokter membuat dia lebih tidak tergantung orang lain untuk mendapatkan nafkah. Guru saya pernah berkata, sebenarnya menjadi dokter itu tidak akan pernah bisa terlalu kaya bila mengikuti aturan yang berlaku. Sebab menurut beliau kalau dokter kaya itu biasanya akan dikompensasikan dengan banyaknya waktu yang harus dialokasikan untuk praktek saja. Kenyataannya memang banyak dokter-dokter senior yang bisa praktek sampai dini hari karena tidak mampu menolak pasien. Ini sangat berbeda dengan beberapa negara tetangga kita seperti Malaysia dan Singapura yang membatasi jumlah pasien yang bisa ditangani oleh seorang dokter. Hal inilah yang sering dikeluhkan pasien kalau dokter Indonesia kurang komunikatif karena selalu terburu-buru. Tentu saja akan terburu-buru karena kalau tidak pasien akan tidak terlayani dan si dokter tidak bisa tidur. Tapi untuk mencapai hal tersebut sebenarnya dokter akan merintis dari bawah bukan berlangsung tiba-tiba. Jadi kalau baru saja lulus jangan harapkan langsung mendapatkan uang yang banyak.
Masih Pekerjaaan Mulia
Semua orang mengakui bahwa menjadi dokter adalah suatu pekerjaan mulia. Bahkan pakar Marketing seperti Hermawan Kartajaya pun berpendapat demikian. Ini dikarenakan karena pekerjaannya berhubungan dengan sesuatu yang sangat berharga bagi manusia yaitu Kesehatan. Tanpa kesehatan sekaya apapun orang itu tidak akan berguna. Tapi tentunya menjadi dokter yang mulia tidaklah gampang, harus ada suatu komitmen terus menerus yang tidak kenal henti dari si dokter. Berhubungan dengan begitu banyak pasien tentunya tidak akan selalu memberikan hasil yang diharapkan pasien. Namun si dokter harus terus berusaha meningkatkan kemampuannya dalam mengobati pasien yang datang kepadanyaSaya berharap calon-calon teman sejawat yang akan menempuh pendidikan dokter dapat terus memaknai nilai-nilai yang terkandung dalam profesi mulia ini. Jangan hanya berpikir untuk menjadi kaya bila ingin menjadi dokter karena kalian akan kecewa. Jangan pula berpikir untuk segera "Balik Modal" sesaat setelah menjadi dokter nanti karena ini akan menjebak anda dalam praktek kedokteran yang tidak etis. Semoga niat baik kita semua yang ingin menjadi Dokter selalu terpelihara sepanjang masa
Senin, 28 Juli 2008
Apakah Ryan Mengalami Gangguan Jiwa?
Belakangan ini kita kembali dihebohkan oleh kasus pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan, pemuda asal Jombang. Orang tidak pernah menyangka bahwa ada seorang manusia yang mampu melakukan perbuatan sekeji itu. Apalagi hal itu dilakukan sepertinya tanpa ada rasa penyesalan dari si pelaku.
Banyak orang kemudian berpendapat apakah Ryan mengalami gangguan jiwa. Sebagian lagi lebih asyik menilik apakah orientasi Ryan yang dikatakan homoseksual menjadi latar belakang terjadinya pembunuhan yang sadis seperti itu
Gangguan Kepribadian Antisosial
Banyak ahli jiwa berpendapat di koran tentang apa yang terjadi pada kejiwaan Ryan. Banyak yang mengatakan kalau Ryan adalah seorang Psikopat. Sebenarnya istilah Psikopat sendiri tidak terdapat dalam pedoman diagnosis gangguan jiwa baik di dalam DSM-IV TR keluaran The American Psychiatric Association ataupun ICD-10 keluaran WHO. Yang lebih merujuk kepada istilah Psikopat itu adalah Gangguan Kepribadian Antisosial. Sebagaimana namanya, maka Gangguan Kepribadian masuk dalam kategori Gangguan Jiwa. Gangguan Kepribadian Antisosial memiliki beberapa ciri yang penting
a. Individu menunjukkan suatu perilaku yang tidak taat norma yang berlaku secara sosial, hukum dan agama. Hal ini menyebabkan tindakannya berkali-kali merupakan tindakan melanggar hukum dan dapat membuat si individu ditahan atas perbuatannya
b. Seringkali berbohong dan bersifat manipulatif demi mendapatkan keuntungan dari orang lain
c. Impulsif dan tidak mampu merencanakan hal-hal ke depan
d. Mudah tersinggung dan agresif sehingga mudah terlibat perkelahian dengan orang lain
e. Ceroboh yang membawa hal yang membahayakan bagi diri dan orang lain
f. Tidak mempunyai tanggung jawab akan tindakannya
g. Tidak mempunyai hati nurani sehingga tidak merasa bersalah ketika menyakiti atau merugikan orang lain
Gangguan ini bahkan dapat dimulai pada masa kanak sampai dewasa lanjut. Seperti gangguan kepribadian yang lain, biasanya individu tidak merasa adanya suatu masalah dalam diri dia sampai orang lain mengeluh tentang tindakannya. Hal ini menyebabkan jarang pasien dengan gangguan kepribadian yang datang berobat ke ahli kesehatan jiwa. Gangguan kepribadian antisosial sering dihubungkan perilaku masa kanak yang sering memperlakukan binatang dengan sadis dan suka bermain api. Penyebab pastinya sampai saat ini belum jelas namun dipikirkan adanya faktor genetik yang berperan. Gangguan ini tidak berhubungan dengan orientasi seksual dari si pelakunya, jadi apakah dia homoseksual atau heteroseksual tidak ada perbedaan
Apakah Ryan Dapat Dihukum?
Banyak orang mengatakan dan berpendapat apakah Ryan menderita gangguan jiwa? Kalau iya apakah ia dapat dihukum karena perbuatannya.Tentunya Ryan dapat diproses secara hukum yang berlaku di Indonesia.Dahulu orang sering merujuk pada KUHP pasal 44 yang menyatakan bahwa "Orang yang sakit atau terganggu jiwanya tidak dapat dihukum" maka kita perlu hati-hati dalam menerapkan pasal ini.
Pakar Psikiatri Forensik Dr.Wahyadi Darmabrata,SpKJ dalam bukunya Psikiatri Forensik mengatakan bahwa saat ini untuk menilai apakah seorang yang mengalami gangguan jiwa dapat dihukum atau tidak adalah apakah dia mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dalam kasus Ryan, kita mengetahui bahwa Ryan sangat pintar dalam mengelabui petugas dan menciptakan alibi. Dia juga tahu bahwa ada konsekuensi hukum akan perbuatannya sehingga dia menyembunyikan korban-korbannya. Lagipula motif untuk menguasai harta korbannya sangat kentara pada tindakan Ryan sehingga hal ini membuat kita berpikir memang Ryan tahu akan perbuatannya dan dapat mempertanggungjawabkannya secara hukum.Semoga di kemudian hari kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi. Pesan saya mungkin adalah jangan ragu bagi anda dan orang di sekitar anda untuk berkonsultasi dengan seorang ahli kesehatan jiwa jika terdapat gangguan kesehatan jiwa bahkan dalam taraf yang masih minimal sekalipun. Jangan sampai sesal di kemudian hari
Penulis adalah Psikiater Keminatan Psikosomatik, dapat dihubungi di email : andri_dr@rsgm.co.id
Banyak orang kemudian berpendapat apakah Ryan mengalami gangguan jiwa. Sebagian lagi lebih asyik menilik apakah orientasi Ryan yang dikatakan homoseksual menjadi latar belakang terjadinya pembunuhan yang sadis seperti itu
Gangguan Kepribadian Antisosial
Banyak ahli jiwa berpendapat di koran tentang apa yang terjadi pada kejiwaan Ryan. Banyak yang mengatakan kalau Ryan adalah seorang Psikopat. Sebenarnya istilah Psikopat sendiri tidak terdapat dalam pedoman diagnosis gangguan jiwa baik di dalam DSM-IV TR keluaran The American Psychiatric Association ataupun ICD-10 keluaran WHO. Yang lebih merujuk kepada istilah Psikopat itu adalah Gangguan Kepribadian Antisosial. Sebagaimana namanya, maka Gangguan Kepribadian masuk dalam kategori Gangguan Jiwa. Gangguan Kepribadian Antisosial memiliki beberapa ciri yang penting
a. Individu menunjukkan suatu perilaku yang tidak taat norma yang berlaku secara sosial, hukum dan agama. Hal ini menyebabkan tindakannya berkali-kali merupakan tindakan melanggar hukum dan dapat membuat si individu ditahan atas perbuatannya
b. Seringkali berbohong dan bersifat manipulatif demi mendapatkan keuntungan dari orang lain
c. Impulsif dan tidak mampu merencanakan hal-hal ke depan
d. Mudah tersinggung dan agresif sehingga mudah terlibat perkelahian dengan orang lain
e. Ceroboh yang membawa hal yang membahayakan bagi diri dan orang lain
f. Tidak mempunyai tanggung jawab akan tindakannya
g. Tidak mempunyai hati nurani sehingga tidak merasa bersalah ketika menyakiti atau merugikan orang lain
Gangguan ini bahkan dapat dimulai pada masa kanak sampai dewasa lanjut. Seperti gangguan kepribadian yang lain, biasanya individu tidak merasa adanya suatu masalah dalam diri dia sampai orang lain mengeluh tentang tindakannya. Hal ini menyebabkan jarang pasien dengan gangguan kepribadian yang datang berobat ke ahli kesehatan jiwa. Gangguan kepribadian antisosial sering dihubungkan perilaku masa kanak yang sering memperlakukan binatang dengan sadis dan suka bermain api. Penyebab pastinya sampai saat ini belum jelas namun dipikirkan adanya faktor genetik yang berperan. Gangguan ini tidak berhubungan dengan orientasi seksual dari si pelakunya, jadi apakah dia homoseksual atau heteroseksual tidak ada perbedaan
Apakah Ryan Dapat Dihukum?
Banyak orang mengatakan dan berpendapat apakah Ryan menderita gangguan jiwa? Kalau iya apakah ia dapat dihukum karena perbuatannya.Tentunya Ryan dapat diproses secara hukum yang berlaku di Indonesia.Dahulu orang sering merujuk pada KUHP pasal 44 yang menyatakan bahwa "Orang yang sakit atau terganggu jiwanya tidak dapat dihukum" maka kita perlu hati-hati dalam menerapkan pasal ini.
Pakar Psikiatri Forensik Dr.Wahyadi Darmabrata,SpKJ dalam bukunya Psikiatri Forensik mengatakan bahwa saat ini untuk menilai apakah seorang yang mengalami gangguan jiwa dapat dihukum atau tidak adalah apakah dia mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Dalam kasus Ryan, kita mengetahui bahwa Ryan sangat pintar dalam mengelabui petugas dan menciptakan alibi. Dia juga tahu bahwa ada konsekuensi hukum akan perbuatannya sehingga dia menyembunyikan korban-korbannya. Lagipula motif untuk menguasai harta korbannya sangat kentara pada tindakan Ryan sehingga hal ini membuat kita berpikir memang Ryan tahu akan perbuatannya dan dapat mempertanggungjawabkannya secara hukum.Semoga di kemudian hari kasus-kasus seperti ini tidak akan terjadi lagi. Pesan saya mungkin adalah jangan ragu bagi anda dan orang di sekitar anda untuk berkonsultasi dengan seorang ahli kesehatan jiwa jika terdapat gangguan kesehatan jiwa bahkan dalam taraf yang masih minimal sekalipun. Jangan sampai sesal di kemudian hari
Penulis adalah Psikiater Keminatan Psikosomatik, dapat dihubungi di email : andri_dr@rsgm.co.id
Kamis, 24 Juli 2008
Seminar Untuk Orang Tua Murid
Hadiri Seminar Untuk Orang Tua Murid
Tema " Mengenal Perkembangan Anak dan Permasalahan Di Baliknya"
Hari/Tanggal : Sabtu/26 Juli 2008
Waktu : 08.00 - 09.30
Tempat : KB/TK EFATA Vila Melati Mas, Serpong, Tangerang
Pembicara : Dr.Andri,SpKJ (Psikiater Keminatan Psikosomatik)
Tema " Mengenal Perkembangan Anak dan Permasalahan Di Baliknya"
Hari/Tanggal : Sabtu/26 Juli 2008
Waktu : 08.00 - 09.30
Tempat : KB/TK EFATA Vila Melati Mas, Serpong, Tangerang
Pembicara : Dr.Andri,SpKJ (Psikiater Keminatan Psikosomatik)
Senin, 21 Juli 2008
Siaran Radio Tentang Psikosomatik
WOMEN RADIO 94,3 FM
Rabu, 23 Juli 2008 Jam : 14.00-15.00
Topik : Gangguan Citra Tubuh
Narasumber : dr.Andri,SpKJ (Psikiater Keminatan Psikosomatik)
Rabu, 23 Juli 2008 Jam : 14.00-15.00
Topik : Gangguan Citra Tubuh
Narasumber : dr.Andri,SpKJ (Psikiater Keminatan Psikosomatik)
Langganan:
Postingan (Atom)